Namanya Nur Anisa. Kedua orang tuanya memberi nama itu biar berarti wanita yang bercahaya, atau cahayanya para wanita. Sesuai dengan doa yang terserat dalam namanya, nur Anisah benar-benar menjadi seorang anak perempuan yang bercahaya. Usianya kini sudah tujuh tahun. Kelas satu. Senyumnya lebar dan manis, rambutnya hitam tebal, kulitnya putih bersih, tubuhnya padat berisi tapi tidak gendut, tapi dari semuanya, yang menjadi pusat cahaya dari nur Anisah adalah dua ciri khas di wajahnya yaitu matanya yang hitam legam bulat dan besar dan lesung pipinya yang dalam. Jika kamu melihatnya tersenyum maka kamu akan melihat mata yang besar, senyum yang manis dan lesung pipi yang dalam. Benar-benar bikin gemes semua orang.

Dengan anugrah dari Tuhan yang begitu besar kepada Anisa itu, orang tuanya tidak mau menyia-nyiakan. Mereka mendidik Anisa jadi gadi kecil yang ramah, suka menolong orang lain, tak suka pamer apapun, dan jujur. Kadang Anisa di ajak ke pasar oleh bapaknya, di jalan Anisa di beri uang receh, ketika sampai pasar ternyata Anisa di ajak putar-putar pasar untuk mencari pengemis dan Anisa di suruh memberi uang recehnya tadi. Setiap ada tetangga yang sakit maka ibunya mengajak Anisa untuk menjenguk. Kedua orang tuanya juga membiasakan makan bersama dan solat berjamaah.

            “Anisa, jadi anak yang jujur ya. Jangan suka bohong. Orang jujur itu di sayang Allah, di sayang bapak ibu, di sayang teman-teman. Anisa mau nggak di sayang Allah?” nasihat ibunya suatu hari

            “mau bu, Anisa mau di sayang Allah. Di sayang bapak ibu juga temen-temen Anisa” jawab Anisa sambil berjanji dalam hatinya untuk tidak berbohong

Setelah tamat nol besar TK Muslimat Bapak ibunya sepakat menyekolahkan Anisa di MIT, Madrasah Ibtidaiyyah Terpadu. Tentu saja di kota, karena di desanya hanya ada SD negeri biasa. Orang tuanya ingin anaknya menjadi wanita yang solehah, makanya mereka mencari MI bukan SD. MI-nya pun bukan sembarangan, tapi yang ada kata “terpadu”, lebih menjanjikan tentu.

Dengan wajah yang manis dan sifatnya yang ramah, Anisa disukai oleh semua orang. Keluarganya, kakek neneknya, paman bibinya, tetangganya, teman-temannya, dan guru-gurunya. Tak ada orang yang tak menyukainya. Anisa benar-benar bidadari kecil yang cantik.

Pagi ini Anisa sarapan hanya dengan ibunya saja karena bapaknya sejak kemarin ke luar kota untuk tugas. Setelah sarapan, seperti biasanya ibunya mengantarkan Anisa ke sekolah.

Seperti biasanya juga, ibunya akan menunggui Anisa sambil duduk di depan kantor guru melihat guru-guru mengajar anaknya di lapangan untuk english and arabic morning. Bu guru yang mengajar di MIT ini benar-benar bu guru yang luar biasa. Dia cantik, keibuan, murah senyum, sabar, tak pernah marah apa lagi membentak. Semua siswa menyukainya. Namanya bu guru Nafisa. Dia adalah bu guru wali kelas Anisa.

            “good morning students, sobakhul khoir ya thulab.” suara bu guru Nafisa di depan dua puluhan siswa siswi kelas satu.

            “good morning mom” jawab dua puluhan anak kelas satu itu serempak

            “kaifa khaluk?” bu Nafisa tanya lagi

            “bi khoir alkhamdulillah” jawab mereka lagi serempak

Begitulah suasana english and arabic morning di MIT ini. Suasananya sangat menyenangkan. Setiap siswa satu guru untuk mengajak bercakap-cakap dalam bahasa inggris dan arab. Tingkat kesulitannya pun berjenjang sesuai kelasnya. Setiap hari guru-guru yang memimpin english and arabic morning selalu mengajak siswa siswinya belajar bahasa inggris dan arab dengan permainan yang menyenangkan dan berbeda setiap harinya. Sehingga tak ada satupun yang jenuh dan bosan. Semua siswa menyukai bahasa inggris dan arab. Mereka masih kecil tapi sudah mulai bisa berbahasa inggris dan arab. Sangat luar biasa.

Karena masih kelas satu, maka bu guru Nafisa hanya mengajarkan untuk pembukaan dengan bahasa inggris dan bahasa arab. Selanjutnya bu guru Nafisa menjelaskan kata perkata dalam bahasa indonesia.

            “ini apa anak-anak?” bu guru Nafisa mengangkat buku tinggi-tinggi di depan siswa-siswinya

            “bbuuukuuuu…..!!!!” jawab mereka serempak sambil semangat

            “hayo, ikuti ibu ya … ini buku”

            “ini buku”

            “bahasa inggrisnya buku adalah book. This is book” bu guru Anisa jongkok agar matanya dan mata siswa siswinya sejajar. Ini adalah teori psikologi belajar anak agar mereka merasa nyaman dan aman serta informasi cepat masuk

            “this is book” jawab anak-anak. Ada yang bilang buk, bubuk, buks. Tak apa, bu guru Nafisa dengan sabar memberi contoh bagaimana mengucapkan kata book dengan benar

            “ayo. What is this?” bu guru Nafisa

            “this is book” jawab dua puluhan siswa siswinya

            “ ma hadza? Hadza kitabun” bu guru Nafisa dalam bahasa arab

            “hadza kitabun” jawab mereka. Sama seperti kata book, kata kitabun juga sangat sulit di lidah mereka. Tapi tetap saja bu guru Nafisa sabar mengajarkan mereka mengucapkan dua kata itu. English and arabic morning tak lama, hanya lima belas menit. Satu kata setiap hari. Satu kalimat setila minggu. Satu paragraf setiap bulan. Satu lembar setiap tahun. Dan setelah enam tahun, mereka sudah tak gagap lagi jika di beri buku cerita dalam bahasa inggris maupun arab. Metode canggih luar biasa.

            “hayo, siapa yang tadi pagi ketika berangkat sekolah cium tangan bapak ibu? Acungkan tangan” bu Nafisa bertanya untuk menutup kegiatan english and arabic morninya.

            “saya…. saya bu guru….. saya….” semua anak berebutan mengacungkan tangan tinggi-tinggi sambil loncat-loncat

Ramai sekali, dua puluhan anak minta di perhatikan satu persatu. Mereka ingin bu guru Nafisa tahu kalau mereka tadi pagi salaman cium tangan bapak ibunya. Tapi Anisa bimbang. Akankah dia berkata jujur kalau tadi pagi dia tidak cium tangan bapaknya atau dia bohong. Jika dia tidak mengacungkan tangan maka semua temannya akan menganggap dia anak yang jelek dan Anisa takut bu guru Nafisa, wali kelas yang sangat dia sayangi akan marah. Tapi jika dia mengacungkan tangan, dia bohong, meski teman-temannya tak tahu, meski bu guru Nafisa tak tahu. Lama Anisa berfikir. Mengacungkan tangan atau tidak???

            “bu tadi pagi saya salaman sambil cium tangan bapak ibu..!!!” teriak teman di sampingnya

            “oh iya” suara bu Nafisa menanggapi celotehan dua puluh siswanya, sangat ribut tapi sangat menyenangkan setiap hari bersama dengan wajah-wajah tanpa dosa, dengan semangat yang sangat panas dan dengan hati yang putih bersih.

Anisa masih terdiam. Dia bingung.

            “bu saya juga cium tangan” teriak teman Anisa, lelaki putih gendut sambil loncat-loncat agar bu Nafisa mendengarkan ceritanya.

Anisa tambah bingung. Dia menoleh ke kantor guru, dimana ibunya sedang menunggunya. Tapi sayang, ibunya sedang ngobrol dengan wali murid yang lain, jadi tak tahu tentang kebimbangan hati bidadari kecilnya itu.

Anisa makin bingung. Semua anak berloncatan sambil mengacungkan tangan dan dia hanya terdiam bingung. Anisa takut di musuhi teman-temannya, Anisa takut di marahi bu guru Nafisa yang sangat di cintainya itu. Tapi Anisa juga ingat nasehat ibunya kalau orang jujur di sayang Allah ibu bapaknya dan teman-temannya. Anisa ingin nangis tapi dia malu di depan guru dan teman-temannya.

Akhirnya Anisa mengangkat tanganya karena takut di musuhi teman-temannya dan takut di marahi bu guru nafisa. Tak tinggi, hanya setinggi telinga. Anisa tidak loncat-loncat dan berteriak teriak. Tapi Anisa tahu kalau dia bohong pagi ini. Anisa takut tidak lagi di sayang Allah, tidak di sayang bapak ibunya, Anisa takut tidak di sayang teman-temannya. Anisa malu nangis, Anisa hanya terdiam sambil kebingungan atas dosanya yang pertama. Bohong. Anak sekecil itu. Hati seputih itu. Harus di kotori. Salah siapa? Anisaa? ibunya? bapaknya? bu guru Nafisa? Atau teman-temannya? Atau mungkin pendidikan?

            “di akherat nanti ada sugra ada neraka. Siapa yang mau ke neraka?” tanya bu Nafisa, sekarang mereka sudah di dalam kelas. Mendengar pertanyaan ibunya tadi tak ada satupun yang menjawab. Mereka terdiam takut.

            “nggak mau bu panas” tiba-tiba seorang anak berceloteh begitu

            “betul jangan mau di neraka. Sekarang, siapa yang mau masuk surga?”

            “saya bu. Saya mau bu…”

            “bu saya mau masuk surga …”

            “nanti saya masuk surga sama mama papa bu…”

Uh, ramai sekali kelasnya.

            “iya iya. Di neraka itu orang-orang di bakar dengan api yang sangat besar sekali” bu Nafisa dengan mimik serius

            “yang di bakar apanya bu?” tanya anak yang di depan

            “semua badannya” jawab bu Nafisa

            “hiiiihhh…. takut bu….” jawab anak-anak kelas satu serempak, semuanya bergidik ngeri. Begitu juga dengan Anisa. Kemarin dia di ajaka bapak ibunya melihat api unggun pramuka di sekolahnya bapaknya. Apinya gede banget. Dari jauh saja Anisa sudah ngerasa panas. Kayu-kayu yang gede-gede saja bisa terbakar jadi abu yang halus. Gimana kalau masuk kesitu? Pasti panas banget.

            “nah makanya kita harus menghindari penyebab kita masuk neraka, yaitu akhlak tercela. Coba apa saja sebutkan akhlak tercela yang mengakibatkan di masukkan neraka?” tanya bu Nafisa melanjutkan

            “mencuri bu” jawab anak perempuan kecil, rambut di kepang.

            “melawan orang tua” jawab anak yang duduk di samping Anisa

            “betul, mencuri dan melawan orang tua. Hayo apa lagi?” tanya bu Nafisa lagi

            “bohong bu” jawab teman depan bangkunya

            “betul, bohong itu hukumannya masuk neraka” komentar bu Nafisa

Mendengar bu Anisa membetulkan jawaban anak itu tangis Anisa yang sejak tadi di tahan kini di tumpahkannya. Anisa menjerit-jerit ketakutan. Anisa memanggil-manggil ibu dan bapaknya. Gu guru Nafisa kaget bingung dan panik. Teman-temannya juga ketakutan melihat Anisa yang biasanya sopan dan anteng tiba-tiba menjerit-jerit nangis memanggil ibu bapaknya. Bu guru Nafisa memanggil ibu Anisa. Semua guru dan karyawan berlarian ingin melihat apa yang terjadi di kelas satu. Ibu Anisa memeluk anaknya. Ternyata badannya panas sekali. Anisa tetap menjerit-jerit ketakutan di pelukan ibunya. Anisa takut masuk api seperti di pramuka kemarin yang sangat panas. Anisa takut. Sampai seminggu kemudian Anisa masih di rumah sakit.

Yogyakarta, 24 Mei 2011

Iklan