Pernahkah malaikat bertanya kepada Tuhan? Pernah, dan itu dilakukannya lima atau enam ribu tahun lalu ketika Tuhan menciptakan manusia pertama, nabi Adam as. Cerita ini luar biasa hebohnya sampai-sampai Tuhan menceritakannya di kitab-kitab-Nya, baik Qur’an, maupun Injil. Banyak versi penjelasan kenapa malaikat bertanya kepada Tuhan, ada yang bilang mereka protes atas terciptanya Adam, ada yang bilang tak mungkin malaikat protes, karena malaikat diciptakan untuk menuruti apapun keinginan Tuhan. Menurutku malaikat memang tidak mungkin membangkang atau protes, tapi aku belum pernah dengar ada ulama yang bilang kalau Tuhan melarang malaikat untuk tanya, karena malaikat juga punya akal.

Kemarin Presiden Mesir Hosni Mubarak turun dari jabatan yang sudah didudukinya selama 30 tahun karena di demo selama berbulan-bulan oleh seluruh rakyat Mesir. Begitu juga dengan Soeharto tahun 98. Tapi, tanpa disadari manusia satupun di bumi ini, bahwa sekarang Malaikat Jibril hampir-hampir mengalami kejadian seperti dua tiran itu. Dia  sedang di demo oleh semua bawahannya. Sebagai raja para malaikat, dia dianggap kurang kompeten oleh malaikat-malaikat lain. Padahal dia diangkat menjadi raja malaikat tidak lewat pemilu, kudeta, atau keturunan ayahnya. Dia diangkat berdasarkan mandat langsung dari Tuhan semesta alam ini! Jadi salah betul malaikat-malaikat yang berdemo itu.

Aku menguping dari malaikat-malaikat di kanan kiri pundakku, mereka berdua sudah dua puluh satu tahun lebih menemaniku, lebih setia dari siapapun. Karena sudah menemaniku sejak aku dilahirkan di dunia ini, maka kurang ajar betul jika aku tak menyapa mereka. Walau aku tak melihat mereka, sering aku ngobrol dengan mereka. Asyik sekali, aku bisa cerita apapun kepada mereka. Aku curhat tentang adiku yang ngambek karena tak ku belikan baju Dagadu Djogja ketika aku mudik, atau tentang uangku yang mepet, kadang-kadang aku cerita tentang mata kuliah Mekanika Kuantum atau Fisika Nuklir yang rumus-rumusnya aneh atau kadang juga aku berbagi soal dengan mereka, aku ngerjain soal kuantum yang ganjil mereka yang genap. Awalnya seperti orang gila, tapi setelah aku pikir-pikir, mereka pasti mengerti apa yang ku katakan. Ada postulat dariku bahwa mereka pasti juga ndengerin dosenku ngajar kuantum, sementara aku ngantuk di pojok kelas. Dan hal ini bukanlah sebuah hal yang sulit dan merepotkan, jadi mereka berdua tak sibuk jika aku ngajak ngobrol.

Aku bercerita dan aku mengira-ngira jawaban mereka, aku mengeluh tentang uangku yang habis dan aku mengira-ngira jawaban dari mereka berdua adalah

            “sabarlah Win, sudah tanggal 25. Enam hari lagi ibumu pasti akan mengirimu uang” kira-kira itu jabawan malaikat Raqib.

            “iya Win, bener tuh. Emang uangmu tinggal berapa?” mungkin itu tanggapan malaikat Atid.

            “Cuma 20 ribu je. Nggak mungkin cukup buat sampe tanggal satu” kalau ini perkataan asliku

            “haha… dasar  manusia, rewel. Lha kita ini nggak butuh uang. sante” malaikat Atid mungkin meledekku

            “eh Atid Roqib. Denger ya. Emang kamu pernah ngrasain main PS? Atau pernah ngrasain rasanya pecel di jalan solo? Atau fotokopi buku statistik yang beratnya saja 20 kilo!?” bentakku

Ku kira mereka berdua menggeleng. Jadi ku jawab dengan lantang

            “sms-an, makan, fotokopi, nyuci, minum, bahkan tidur butuh uang!!”

Aku yakin mereka paham apa yang ku maksud. Seperti itulah komunikasiku dengan mereka berdua, tak lebih tak kurang. Kita bertiga mungkin seperti personil Netral, Tiga Diva, atau mungkin  Trio Macan. Tak kurang tak lebih.

            “Win kau tahu, malaikat hari ini lagi ribut tau” ku kira-kira malaikat Roqib memulai percakapan ketika aku mau tidur siang.

Mengganggu saja!

            “emang kalian bisa ribut?” jawabku

            “oalah, gak pernah ngaji ya jadinya kayak kau ini, nyesel aku ditugasin ngawasin kamu” malaikat Atid sedikit marah padaku, mungkin.

            “hahaha ku kira kau ngilangin catetanmu, Tid”

            “sembarangan! Gini-gini kita berdua profesional tau! Temen-temen malah lagi pada demo, Cuma kita berdua gak bisa soalnya ngurusin kamu itu” Atid mungkin kelihatan ngambek dan nyesel berat di tugasin ngawasi aku.

            “ya udah deh. Bilang sama Tuhan kalian minta libur sehari aja” bujukku

            “lha nek ku tinggal trus kamu ghosob sandal piye?” Atid ragu-ragu, mungkin

            “hehehe…. urusanku kuwi” aku cengar-cengir sendiri

Mereka berdua diam. Seperti ragu-ragu mau cerita apa.

            “malaikat Malik ngliburin neraka, malaikat Ridwan mbiyarin surga kotor gak di sapu sama bidadari, mungkin bidadari malah tidur-tiduran, temenku si Mungkar dan Nakir juga nggak lagi ngurusin siapa yang mati. Mereka pergi ke kantornya bos Jibril” kurang paham aku siapa yang cerita ini, Raqib atau Atid.

            “waduh gawat no, Izrail juga?” ku pikir bakal kasian para tukang gali kubur ntar karena nggak ada yang bakal mati

            “iya. Tapi karena dia malaikat paling kuat, dia bisa demo sekaligus nyabut nyawa. Hal enteng tau mbunuh orang bagi dia” nah kalau ini aku yakin Atid

            “masalahnya apa to?” aku nggak jadi tidur, duduk sandaran lemari baju

            “gini Win, kemarin, ada orang masang status di fesbuk gini ‘hujan-hujan, ngopi tambah ngrokok, asyik tenan’ “ malaikat Atid, (seandainya dia bisa bilang padaku).

            “trus?” aku mulai penasaran, kok sempet-sempetnya malaikat mbaca status di fesbuk. Ku pikir mereka juga pengen up date status.

            “lha, ada yang ngoment ‘rokok haram mas’ “ ini malaikat Roqib mungkin

            “apa hubungannya sama demonya malaikat?”

            “ah, goblok banget sih Win. Denger dulu. Orang yang pasang status itu njawab ‘lha kata ustadku nggak haram kok’ “ malaikat Roqib mungkin tak terima aku tanya terus.

Aku sekarang diam, walau aku yakin mereka berdua jujur, tapi nasibku di tangan mereka berdua, jadi aku takut mereka marah sama aku trus aku di tulis yang jelek-jelek semua amalku, makanya ngantuk-ngantuk ku paksa melek. Kalau sampai ada catatan yang mereka selewengkan perkaranya surga neraka. Nggak main-main.

            “ ‘menurut majelis anu bilang haram’ tu jawaban orang yang ngoment tadi”  kata Atid barangkali

            “wah berantem dong. Asyik kalau gitu”

            “gimana asyiknya to Win? Orang yang pasang status langsung skak matt gini ‘menurut saya dan bersandar kepada ulama-ulama saya bahwa rokok nggak haram. Dan sedangkan menurut ulama-ulama anda rokok haram ya haram. Titik. Kalau saya ngrokok malaikat Atid nggak bakal nulis apa-apa, dan kalau anda ngrokok malaikat Atid anda harus kerja!, ini Pluralisme!’ ” sedikit ragu-ragu tapi mungkin ini yang bilang malaikat Atid. Aku tersentak kaget. Sebegitukah kerja malaikat?

Aku tak habis pikir, malaikat pencatat amal baik harus mengerti apa itu kebaikan, kebenaran dan pahala, mungkin mudah saja kalau orang nyebrangin orang buta di jalan, tinggal centang saja “PAHALA”. Gitu juga sama malaikat yang nulis masalah keburukan, harus tau apa itu buruk dan dosa, gampang kalau ada orang nyuri tinggal tulis, “DOSA”. Lha ini masalahnya rumit, ‘ORANG NGROKOK’. Malaikat Atid harus tau hukum rokok itu apa dan menurut siapa. Jika kata orang golongan ini bilang halal, maka semua orang yang bergolongan ini nggak dosa kalau ngrokok. Sebaliknya golongan itu bilang haram, maka semua orang yang bergolongan itu dosa kalau ngrokok.

“Kok malah jadi nggak konsisten?? Baik buruk satu hal yang sama dilihat tidak lagi objektif, tapi sujektif.” Protesku.

Mereka berdua diam

 Kalau ada seratus orang solat jum’at ketutupan pagar dan pagar itu kekunci. Maka malaikat Atid kudu cepet-cepet tahu golongan mereka masing-masing, habis itu kudu ngerti hukum orang solat jama’ah yang ketutupan pagar terkunci tu sah atau nggak menurut golongan mereka masing-masing. Dari seratus orang tadi, mungkin ada delapan puluh orang yang diitung nggak solat jum’at karena golongannya anu, dan sembilan belas lagi dihukumi ikut solat jum’at karena menurut imam-imam mereka sah solat di belakang pagar yang terkunci. Dan yang satu, baik Roqib maupun Atid nggak nulis, berarti seri. Karena orang ini sama sekali nggak paham sama yang namanya golongan, madzhab, organisasi, jam’iyyah, maupun imam.

Aman!!!

            “adil nggak tuh??” desakku pada mereka berdua. Tetap saja diam

Kesadaran baru ini membuat malaikat Mungkar-Nakir merasa bersalah telah bertanya nggak sopan kepada orang yang nggak solat jum’at. Mereka nggak tau prosesnya gimana, asal dia dapat catetan dari malaikat Roqib Atid, dan mereka pertimbangkan mau di tanyain sopan atau langusng hajar. Begitu juga malaikat Malik sama Ridwan. Mereka jadi bingung.

 “misal ada dua orang ngrokok bareng di angkringan, apakah orang yang masuk nereka itu amal mereka bener-bener jelek? Padahal mereka ngrokok bareng diangkringan Cuma satu orang golongan ini satunya golongan itu, lah yang satu aman nggak di pukuli karena dosa ngrokok, yang satunya udah babak belur gini” terang malaikat Atid

            “gitulah Win, merasa kasihan sama kamu-kamu ini, malaikat tanya sama mandor, bos, atau raja kita. Si malaikat Jibril. Malaikat Jibril bingung. Kasihan dia, terus di desak masalah ini” kira-kira ini curhat dari Atid, eh bukan, ini bahasanya Roqib.

            “semoga cepet dapet jalan keluarnya ya” nah ini baru kira-kira si Atid

            “eh, kira-kira nek malaikat Jibril udah nggak tahan menghadapi oposisi kayak kalian-kalian ini dan dia mengundurkan diri, kalian mau nyalon jadi presidennya malaikat?” ini omonganku.

            “katanya calon kuatnya si Isrofil, kasian dia selama ini nganggur, cuma olah raga tok, biar besok bisa kuat nafasnya waktu niup sangkakala katanya” kalo ini kata mereka berdua, mungkin.

Erwin Arsadani Masruro,

Yogyakarta, 11 Mei 2011

Iklan