Sebelum aku memulai apa yang terjadi di merbabu 5 mei 2012, aku ingin ngomel-ngomel dulu sama perempuan yang entah aku lupa namanya yang menuliskan ceritanya di majalah yang juga aku lupa apa namanya yang ku baca juga lupa kapan, waktu sd mungkin. Di majalah nggak jelas itu, perempuan yang juga nggak jelas itu menceritakan detil tentang perjalanannya dari awal sampai puncak gunung rinjani.

Entah kenapa cerita itu ku baca berulang kali. Mungkin karena di desa jarang ada majalah (boro-boro majalah, buku saja susah, buku tulisku dulu adalah hadiah mie kuning). Selain tak ada saingan dengan majalah-majalah lain juga mungkin karena ke hausanku akan tulisan dalam rangka merayakan terbukanya dunia baru bagiku, dunia tulisan. Yang terbuka kelas satu sd.

Akibatnya hikampusku yang ada di otak menerima itu seakan menjadi doktrin yang kemudian memasukkannya secara padat dan permanen di hipotalamusku. Menjadi makhluk yang membuatku gelisah. Bukan rinjaninya, bukan puncaknya, bukan sun rise-nya, tetapi langkah demi langkah, nafas demi nafas yang terputus-putus, dan kaki yang bengkak dan biru-biru.

Buat mbak itu aku ucapkan selamat tulisan anda membuat hari-hariku gelisah, karena tiap detik dari hidupku di bawah bayang-bayang gunung slamet, dan sekarang di bawah ketiak merapi. Apapun gunung itu, aku ingin ke puncaknya.

Iklan