Anak-anak mau dibawa kemana? Jika sekolah-sekolah yang dulu adalah tempat untuk belajar dan belajar kini berubah fungsi menjadi pembelenggu kreatifitas siswa, sebagai pemancung waktu siswa, sebagai penjajah dan perenggut kehidupan siswa!!!

Bagaimana tidak, dari jam 7 sampai jam 12 untuk sd, seorang anak disuruh duduk dikelas untuk memperhatikan papan tulis yang berisi angka-angka. Untuk menghafal angka-angka. Kasihan sekali para siswa itu. Kasihan sekali kehidupanku dulu disekolah. Apalagi sekolah yang mengatakan bahwa dirinya adalah sekolahan yang berkualitas. Semoga la`nat Allah ditimpakan kepada mereka yang merampas kehidupan anak-anak dan membuang senyum manis dan lebar anak-anak. Bagaimana mungkin dan kemana otak yang dipakai seorang siswa sd berangkat jam 7 dan pulang jam 4 sore???

Kapan anak-anak bermain sepak bola? Kapan mereka berantem? Kapan mereka kejar-kejaran? Kapan mereka berlari kencang, berlari kencaang sekali? Ya Allah sadarkan para guru, sistem dan orang tua yang mengurung anaknya di kelas dan menjejalinya dengan soal-soal gila!

Kapan anak-anak berangkat mengaji? Berangkat mengaji dari ba`da asar sampai menjelang maghrib. Dua jam lebih mereka di surau, di masjid atau di tpa tapi hanya 10 menit mereka mengaji, selebihnya apa? Bermain! Bekejar-kejaran! Berantem! Nangis dan tertawa!

Itu pendidikan yang benar! Dimana psikologi adalah senjata utamanya. Dimana jiwa seorang anak diberiakan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Dimana seorang anak akan menjadi orang yang pemberani karena berantem. Menjadi orang yang jujur ketika bermain petak umpet dia tidak mengintip, menjadi orang yang professional dan bertanggungjawab ketika menggendong temannya karena dia kalah lari-lari.

Alangkah bahagianya mereka. Paru-paru mereka dapat menghirup udara dengan bebas. Jantung mereka berdenyut memompa darah dengan cepat agar lari mereka tak kalah. Otot tubuh mereka kuat sempurna. Bahasanya adalah bahasa ibu. Jawa bagi orang jawa, melayu bagi orang melayu, bali bagi orang bali dan begitulah seharusnya.

Kulit mereka hitam karena sinar matahari yang membuat jiwa mereka hangat dan penuh kasih sayang. Beberapa  luka karena terjatuh yang menjadikan mereka tak takut dan tak kenal putus asa. Kotor tubuh mereka karena berlari-lari dilapangan, tapi ketahuilah, debu-debu itulah yang menjadikan mereka adalah bagian dari alam ini, dari masyarakat dan bagian dari Indonesia bahkan dunia.  Lihatlah keringat mereka. Keringat itu jauh lebih wangi dari minyak wangi merek apapun. Karena keringat itu adalah buah dari kebebasan, kebahagiaan, dan bersumber dari jiwa suci mereka.

Lihatlah tertawa mereka, gigi mereka yang kadang ompong karena permen, ada yang cokelat (hihi) ada yang baru tanggal satu didepan. Jelek sekali. Tapi itulah hidup mereka. Jangan pernah merampasnya!

Jangan pernah merampasnya kumohon. Janganlah mereka disuruh les disekolah sampai sore. Karena keringat mereka tak akan keluar, jantung mereka menjadi lemah, paru-paru mereka menjadi kosong. Lihatlah wajah mereka. Wajah kelelahan, kepenatan. Kalian tega guru-guru les gila??? Orang-orang tua yang bodoh???

Apa yang kalian inginkan???? Dia lulus sd dengan nilai tertinggi??? Buat apa???

Biar bisa bahasa inggris dan arab??? Buat apa???

Kalian gila. Lebih kejam dari pemerkosa sekalipun, karena kalian telah memperkosa kehidupan mereka. Kalian menghalangi aliran jiwa mereka yang hangat dan membawanya ke lembah les yang dingin, lembah kursus  piano, biola, tari atau bahasa arab, inggris yang dingin, dingin sekali.

Tolonglah, lihat wajah mereka, wajah mereka. Ada kehangatan yang tersimpan. Ada harapan. Ada semangat. Taruh mereka di alam. Agar mereka hidup dengan semestinya.

Tak ada gunanya nilai-nilai angka di rapot jika jantung mereka lemah. Apa kalian tega mereka bisa mengalunkan nada-nada biola yang indah tetapi nada-nada dengus dan desah nafasnya lirih, tak ada kehangatan disana, kalian tega??? Sekali lagi kalian tega???!!!!!! Jika mulut mereka mahir sekali berbicara `sobakh al khaer ya akh` dan `good morning sir` tapi tak ada senyum yang manis disana. Mereka tak tahu dan tak merasakan jiwa bahasa disana. Mereka hanya dapat merasakan nikmat bahasa dimana bahasa itu lahir sama dengan mereka lahir, sama dengan bahasa tetangganya, temannya dan saudara-saudaranya!

Seorang ibu akan menyuruh anaknya berangkat sekolah daripada menunggu adiknya yang sakit. Seorang bapak akan lebih menyuruh anaknya mengerjakan tugas daripada ikut kerja bakti atau bapak akan menyuruh anaknya tidur agar besok ke sekolah tidak mengantuk daripada mengajaknya bermalam dirumah saudaranya. Jika ini terjadi???

Mereka akan menjadi manusia-manusia yang tak punya simpati sama sekali, lebih mementingkan diri sendiri, egois, sombong  dan sangat materialis (berangakat sekolah) dan melupakan nilai-nilai simpati, persaudaraan, pengorbanan dan kasih sayang (menjaga adik yang sakit). Mereka tak akan menyapa orang lain (tidur di rumah saudara) jika itu tak menguntungkan dirinya (tidak mengantuk di kelas)!!!

Haramkan ujian nasional!!! Boro-boro cita-cita dan impian, lha  sopan santun, budaya, seni, nilai kemasyarakatan atau agama saja babar blas. Setiap anak sekolah di negeri ini ketika berangkat fikirannya hanya UN UN dan UN… pendidikan gila!!! Sesat dan menyesatkan!!!

Kasihan sekali sekolahan sebagai alat pendidikan yang tujuan utamanya adalah pembodohan. . . . L

Iklan